Kekeringan Mengancam Hulu Sungai, Legislator Samarinda Soroti Dampak Pembangunan

Lintasasia.id Samarinda – Ancaman kekeringan di hulu sungai yang melintasi Kabupaten Paser dan Kabupaten Kutai Timur semakin mengkhawatirkan. Jika hujan tak turun selama 23 hari, debit air diprediksi anjlok drastis hingga berisiko mengering.

Kondisi ini menjadi sorotan Anggota Komisi III DPRD Kota Samarinda, Abdul Rohim. Ia mengungkapkan bahwa akademisi dan aktivis lingkungan menilai perubahan lingkungan di sekitar aliran sungai berkontribusi besar terhadap potensi krisis air.

“Di masa lalu, kawasan kiri dan kanan sungai masih dipenuhi lahan terbuka hijau, hutan kecil, atau taman sederhana yang berfungsi sebagai daerah resapan air. Kini, banyak area yang tertutup semen dan mengalami pengurukan, sehingga air sulit terserap ke dalam tanah,” ungkapnya, Rabu (12/2/2025).

Rohim menjelaskan, dalam kondisi normal, air hujan yang terserap tanah akan kembali ke sungai, membantu menjaga stabilitas debit air. Namun, dengan semakin berkurangnya daerah resapan, air langsung mengalir ke sungai saat musim hujan, meningkatkan risiko banjir. Sebaliknya, saat musim kemarau, cadangan air berkurang drastis, mempercepat terjadinya kekeringan.

Sebagai langkah antisipasi, politikus PKS ini menekankan perlunya evaluasi terhadap kebijakan pembangunan di sekitar sungai. Salah satu yang menjadi perhatiannya adalah rencana penurunan dan penutupan aliran anak Sungai Karang Mumus.

“Kami meminta agar proyek ini dikaji ulang. Jangan sampai langkah yang diambil justru memperburuk kondisi lingkungan dan mengancam ekosistem,” tegasnya.

Ia pun berencana berkoordinasi lebih lanjut dengan pihak terkait untuk memastikan kebijakan pembangunan tetap memperhatikan keseimbangan ekosistem serta keberlanjutan sumber air di daerah hulu sungai.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *